+62822-3151-6599 Contact@gvpnd.com

Pantai Batuhiu adalah sebuah kawasan destinasi wisata berbasiskan pantai yang berada di ibu kota Kabupaten Pangandaran yang merupakan salah satu pelopor destinasi wisata andalan di Kabupaten Pangandaran. Batu Hiu memiliki panorama alam yang sangat indah. Dengan Keindahanya, pantai ini disebut-sebut juga sebagai Tanah Lot-nya Jawa Barat yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran yang berjarak ± 14,7 km dari Bundaran Marlin Pangandaran ke arah Selatan yang memiliki titik koordinat 7°41’32.5″S 108°32’19.4″E. Pantai ini memiliki pasir pantai berwana hitam dengan karakteristik pantai yang mempunyai tingkat abrasi dan ombak yang cukup besar. Pantai Batu Hiu memiliki sebuah bukit karang raksasa yang di atas bukit tersebut sudah di buatkan sarana dan fasilitas pendukung pariwisata seperti jalan akses, toilet, arena bermain anak, dan juga gazebo dimana wisatawan dapat menikmati panorama pantai dan laut.

(Perjalanan Menuju Pantai Batu Hiu)

Ketika memasuki kawasan destinasi wisata pantai batu hiu setelah gerbang masuk wisatawan akan langsung di disambut dengan gua berlorong yang di bangun menyerupai mulut ikan hiu. Gerbang ini seakan menggambarkan identitas Pantai Batu Hiu dan membenarkan legenda yang beredar di pantai ini. Bentuk lorong gua ini cukup nyata karena dilengkapi dengan gigi-gigi tajam dan di bentuk sedemikian rupa yang sangat mirip dengan ikan Hiu, bukan hanya itu di bawah bukit Pantai Batu Hiu masih memiliki beberapa gua exsotis lainnya, yang di mana warga setempat mempercayai bahwa salah satu diantara gua tersebut terhubung dengan gua di Pantai Utara Cirebon.

Berdasarkan cerita rakyat, bahwa pada abad ke-11 sejumlah pasukan buangan dari kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Aki Gede dan Nini Gede tiba di tempat ini dan memutuskan untuk beristirahat serta tinggal sementara di dekat bukit Batuhiu. Lalu Aki Gede dan Nini Gede memerintahkan pasukannya untuk mencari makanan di sekitar Bukit. Salah satu pasukannya yang disebut Ki Braja Lintang, memutuskan untuk mencari ikan di pantai dan menangkap ikan hiu. Ketika Aki dan Nini Gede mengetahui tentang itu, iya memerintahkan Ki Braja Lintang untuk melepaskan ikan kembali ke lautan. Ketika mereka melepaskannya, ikan hiu tersebut berubah menjadi sebuah batu hitam besar yang berbentuk hiu dan masih bisa dilihat hingga saat ini dan dinamakan Batu Hiu.

Daya tarik lainnya dari Pantai batuhiu adalah panorama hamparan luas lautan Samudera Hindia. Wisatawan dapat menyaksikan deburan ombak kencang yang menghantam batu karang dan birunya lautan yang menenangkan hati dan pikiran. Pemandangan ini akan semakin menakjubkan ketika berkunjung pada musim kemarau, dimana langit berwarna biru cerah tanpa awan dan memantulkan keindahannya pada lautan. Untuk menikmati semua kehebatan ciptaan Tuhan tersebut, Wisatawan harus menaiki bukit karang yang merupakan lokasi spot foto dan video terbaik dengan latar belakang lautan. Panorama lain yang tak boleh di lewatkan adalah pemandangan matahari terbenam di ufuk barat. Momen-momen seperti ini banyak dinanti oleh para wisatawan.

Masih ada lagi daya tarik di sekitar kawasan destinasi wisata pantai Batu Hiu yaitu wisata edukasi konservasi penangkaran penyu dimana ada beberapa jenis penyu yang ditangkarkan di penangkaran ini wisatawan dapat melihat secara langsung salah satu fauna langka yang ada di Indonesia dan juga sudah termasuk dalam kategori terancam punah. Batu Hiu merupakan salah satu daerah di wilayah Pantai Pesisir Jawa Pangandaran yang menjadi lokasi tempat mendaratnya penyu laut setiap tahunnya. Saat ini, Penyu termasuk ke dalam katagori hewan yang berstatus hampir punah dan perlu dilakukan upaya untuk pelestarian.

Sekilas tentang Penyu di Indonesia

Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di dunia, yang saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu:

  • Penyu hijau (Chelonia mydas)
  • Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
  • Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
  • Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
  • Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
  • Penyu pipih (Natator depressus)
  • Penyu tempayan (Caretta caretta)

Kabupaten Pangandaran merupakan rumah bagi 5 dari 7 spesies Penyu yang ada di dunia. Dalam laporan Conservation International (CI) disebutkan, jumlah penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.

Penyu merupakan salah satu bintang purba yang langka di dunia dan keberadaannya dilindungi oleh undang-undang. Penyu dapat bertelur ketika berusia 25 tahun lebih, pemeraman telur penyu berkisar seminggu hingga dua bulan dan penyu dapat berusia hingga ratusan tahun. Untuk menjaga penyu dalam penangkaran, air harus diganti setiap hari dan penyu sangat sensitif pada indra penciumannya serta akan mudah stres jika dipegang. Keberadaan penanggkaran penyu di Pantai Batu Hiu ini sebagai upaya untuk menjaga dan melestariakan keberadaan penyu dari ancaman kepunahan, seiring dengan meningkatkan perburuan besar-besaran terhadap telur dan daging penyu yang dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Kawasan Konservasi Penyu di Pantai Batu Hiu ini memiliki beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, di antaranya terdapat ruang inkubasi peneluran penyu, Hacthery, ruang karantina, pos jaga, ruang informasi, laboratorium hingga taman yang dilengkapi gazebo-gazebo yang menghadap ke laut.

Berdirinya penanggkaran penyu ini berawal saat banyaknya ditemukan Penyu Belimbing (Dermochelys sp) di perairan Pangandaran mulai tahun 1963, seiring dengan itu semakin meningkat juga ketertarikan masyarakat hingga maraknya perburuan penyu untuk tujuan konsumsi, maupun sekedar hobby terhadap penyu untuk tujuan komersial, dari keprihatinan beliau pada awal tahun 80-an menggerakan pak Didin Syaefudin untuk mencegah agar masyarakat tidak mengeksploitasi secara berlebihan satwa laut yang saat ini sudah dilindungi. Berbekal tekad, upaya sosialisasi kepada masyarakat setempat dilakukan melalui pendekatan persuasif, dari pintu ke pintu, dari orang ke orang dan termasuk pendekatan kepada para nelayan, termasuk yang secara tidak sengaja jaring (pukat)nya menangkap Penyu. Semua Komitmen terhadap upaya pelestarian ini akhirnya beliau membangun sebuah tempat penangkaran telur penyu sederhana atas dasar swadaya dan swadana yang terletak 500 meter dari pantai batu hiu yang dapat di tempuuh dengan berjalan kaki ± 10-15 menit dengan titik kordinat 7°41’32.1″S 108°32’02.1″E. Upaya yang tidak kenal lelah berujung kepada keberhasilan, beberapa simpati dari warga nelayan dan masyarakat setempat mendukung upaya pak Didin untuk melindungi Penyu dan habitatnya. Yang akhirnya sebuah lembaga pelestari disyahkan melalui notaris dengan nama Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu dan diakui keberadaannya oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia.

Pasca Tsunami 2006 yang menghantam Pangandaran, pantai Batu Hiu termasuk daerah yang terkena dampak badai hebat itu. Tempat penangkaran yang dibangun sebelumnya rusak berat dan hanya bisa menyelamatkan dua ekor penyu dari amukan Tsunami. Namun tekad tak pernah pudar, upaya penyelamatan terhadap telur penyu egg turtles rescue dilakukan dengan cara sangat sederhana, melalui kotak sabun berukuran 1 x 60 cm telur-telur diinkubasi didalamnya, dan syukur upaya tersebut bisa berhasil, telur-telur penyu dapat menetas dalam media yang terbatas tersebut.

Perjuangan pak Didin Syaefudin bersama rekan-rekan tidak berhenti di sini. Lingkup aktivitas lembaga bukan hanya menyelamatkan penyu dari tangan jahil tapi lebih dari itu, upaya konservasi habitatnya juga perlu dilakukan. Suatu saat nanti kita masih bisa menyaksikan 5 jenis spesies penyu dari 7 spesies dunia berkeliaran di Pangandaran dan sekitarnya.

(Penangkaran Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu)
(Penangkaran Kelompok Pelestari Biota Laut (KPBL) Batu Hiu)

Selain aktivitas rekreasi, di Kawasan Pantai Batu Hiu ini juga dapat dilakukan aktivitas yang berkaitan dengan wisata religi, karena ada beberapa wisatawan yang kerap melakukan aktivitas ziarah dibeberapa situs yang berada di atas bukit karang pantai batu hiu yang di keramatkan oleh masyarakat sekitar yang merupakan sebuah patilasan peninggalan sejarah masa lalu.

Sarana dan fasilitas wisata yang terdapat di kawasan Pantai Batu Hiu yaitu berupa akomodasi dengan jenis pondok wisata dan hotel melati, kemudian penyedia makan dan minum dengan jenis café dan warung di pinggir pantai serta pedagang kaki lima. Fasilitas penunjang wisata aktual lainnya yang terdapat di kawasan ini yaitu berupa toilet umum dan area parkir untuk kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat baik jenis mini bus maupun bus besar.

Akses jalan utama yang dilalui untuk mencapai kawasan Pantai Batu Hiu berkondisi cukup baik. Namun untuk di dalam kawasan Pantai Batu Hiu masih perlu dilakukan perbaikan karena terdapat beberapa titik yang berlubang. Alat transportasi yang dapat digunakan yaitu kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Untuk kendaraan umum hanya tersedia bus antar kota dn provinsi dengan trayek menuju pangandaran dan hanya dapat digunakan untuk mencapai jalan utama, sedangkan untuk menuju titik utama pantai ini harus menggunakan jasa ojeg atau berjalan kaki.

Peluang yang ada untuk Pantai Batu Hiu yaitu memiliki daya tarik berupa panorama pantai yang dapat dinikmati dari atas bukit. Sedangkan hambatan yang terdapat pada daya tarik ini yaitu minimnya sarana, prasarana, dan fasilitas wisata di kawasan ini, seperti kurang memadainya kondisi toilet di kawasan ini. Dari sisi prasarana akses dalam kawasan seperti jalan setapak perlu dilakukan perbaikan karena adanya kerusakan, dan untuk penerangan di area ini masih sangat minim, sehingga pada malam hari daya tarik ini sulit dikunjungi.

Leave a Reply

Please rate*

Tour Search

Pangandaran Golden Visage

is a local Pangandaran Tours Agency based in Pangandaran, West Java – Indonesia. Pangandaran Golden Visage is runned by a local pangandaran guide, Iwa Purwana Suganda and he’s Team – an expert of Pangandaran Tours & Adventures who has been working in the Pangandaran tourism industry for many years and has an excellent track record in serving travelers from all over the world.


Ada Pertanyaan?

Jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami sangat senang untuk bisa berbicara dengan Anda.

+6282231516599

contact@gvpangandaran.com